Rabu, 20 Juni 2012

mitos di Lamongan



LARANGAN ORANG LAMONGAN MENIKAH DENGAN ORANG KEDIRI DAN TRADISI PINANGAN DI LAMONGAN




Pada waktu itu Adipati Kediri, yang mempunyai dua orang putri kembar yang bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi, berniat akan menjodohkan kedua putrinya dengan putra Bupati Lamongan yang juga kembar, Panji Laras dan Panji Liris. Hal tersebut karena Adipati Kediri akan melakukan koalisi dengan  wilayah-wilayah yang ada di pesisir utara Jawa, salah satunya Lamongan. Adipati Kediri melakukan koalisi tersebut karena Kerajaan Majapahit tengah mendapat masalah, yaitu terjadi perang saudara yang mengakibatkan Majapahit menjadi sebuah kerajaan yang tidak punya wibawa lagi di negeri-negeri bawahannya. Melihat Majapahit yang semakin keropos ini, Adipati Kediri saat itu merasa bahwa inilah saatnya bagi Kedirisebagai kerajaan yang lebih tua dan keturunan syah dari Prabu Airlangga untuk mengambil alih kekuasaan dari Majapahit.
 


 
Mengetahui niat dari Adipati Kediri tersebut, Bupati Lamongan merasa bimbang antara mau menerima ataukah menolak rencana koalisi berbalut pernikahan tersebut. Bila dia menerimanya, dia takut dengan pembalasan Majapahit. Namun bila dia menolak dan kemudian Kediri berhasil menggulingkan Majapahit, maka Kediri pastinya juga akan membalas atas penolakannya tersebut. Disamping itu bila sampai terjadi perang saudara lagi, maka ekonomi dan perdagangan yang saat itu dikuasai oleh orang-orang pesisir utara Jawa nantinya pasti akan terganggu.





 
Memikirkan hal tersebut maka Bupati Lamongan menjadi bingung dan memutuskan untuk menguji kesungguhan dari Adipati Kediri. Kemudian Bupati Lamongan mengajukan tiga syarat yaitu. Pertama, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus mau memeluk Islam. Kedua, pihak keluarga mempelai wanita lah yang harus datang melamar kepada pihak keluarga mempelai pria. Ketiga, nantinya pihak mempelai perempuan harus datang dengan membawa hadiah berupa gentong air dan alas tikar yang kedua-duanya harus terbuat dari batu.
Mendengar syarat-syarat tersebut, ternyata Adipati Kediri masih bersedia untuk memenuhinya dan menyuruh kedua putrinya untuk datang melamar ke Lamongan, sehingga mau tak mau Bupati Lamongan akhirnya bersedia untuk melaksanakan pernikahan tersebut.
Tibalah hari yang telah ditentukan, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi diiringi dengan rombongan besar orang-orang Kediri datang ke Lamongan. Panji Laras dan Panji Liris di temani Ki Patih Mbah Sabilan diperintahkan oleh ayahnya untuk menjemput kedua putri Kediri tersebut di batas Kota Lamongan.


 
Pada saat itu Lamongan sedang mengalami bencana banjir, sehingga mau tidak mau Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat “jarik”nya sampai ke paha agar kainnya tersebut tidak basah. Celakanya, karena hal itu Panji Laras dan Panji Liris bisa melihat bahwa ternyata kaki Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi ternyata berbulu lebat seperti bulu kuda. Sehingga Panji Laras dan Panji Liris menolak untuk menikahi Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi serta meminta agar rencana pernikahan tersebut dibatalkan saja.
Mendengar hal tersebut  Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka bunuh diri saat itu juga dihadapan Panji Laras dan Panji Liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan sampai bunuh diri, orang-orang Kediri itu akhirnya menjadi sangat marah dan ingin membunuh Panji Laras dan Panji Liris, kemudian terjadilah perang. Melihat nyawa Panji Laras dan Panji Liris dalam bahaya, maka Ki Patih Mbah Sabilan berjuang mati-matian untuk melindungi mereka, dan akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan meninggal untuk melindungi nyawa Panji Laras dan Panji Liris. Setelah patihnya meninggal, orang-orang Lamongan pun semakin terdesak dan akhirnya Panji Laras dan Panji Liris pun ikut meninggal tanpa diketahui jenazahnya.
Tidak puas dengan hal tersebut orang-orang Kediri itu pun semakin maju bahkan sampai ke pendopo kadipaten. Dalam pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Bupati Lamongan ikut gugur. Namun sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Bupati Lamongan sempat berpesan agar nanti anak cucunya tidak boleh menikah dengan orang Kediri.
Hal itulah yang menjadi alasan orang Lamongan tidak diperbolehkan menikah dengan orang Kediri. Serta semenjak itu ada tradisi di Lamongan yang melamar atau meminang harus dari pihak perempuan dahulu.
                                                                                                                                           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar